Pages - Menu

Selasa, 27 Desember 2016

Prevention of Deterioration : Usaha Panjang, Untuk Jangka Panjang



NIM   : D1814012

Dibuat Pada : 22 Desember 2016



Prevention of Deterioration
Oleh: Arienda Addis Prasetyo
Mahasiswa Program Studi D3 Ilmu Perpustakaan
Universitas Sebelas Maret

Pelestarian (preservasi) mencangkup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka dan arsip, termasuk di dalamnya kebijakan pengolahan, metode dan teknik, sumber daya manusia, dan penyimpanannya.

Kata pelestarian, menurut kalangan perpustakaan, arsip, dan museum adalah terjemahan dari preservation atau preservasi dan conservation (AIC), pengertian preservasi lebih luas dibandingkan dengan pengertian konservasi. Preservasi adalah aktivitas memperkeil kerusakan secara fisik dan kimiawi dan mencegah hilangnya kandungan informasi.
Lantas muncul adanya kebijakan pelestarian bahan pustaka, yang ditujukan untuk menentukan tujuan perpustakaan dalam strategi pengelolaan pelestarian yang meliputi pemeliharaan, perawatan, pengawetan, perbaikan, dan reprografi. Kebijkan itu menyangkut semua aspek pelaksanaan pelestarian yang meliputi periode tertentu, umpamanya sepuluh tahun atau lebih. Proses penyusunan kebijakan pelestarian dimulai dari penelusaran, survei kondisi, dan survei fasilitas perpustakaan.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintah dalam bidang perpustakaan. Yang bisa dikatakan perpustakaan induk Indonesia ini, memiliki devisi Pusat Preservasi yang dimana merupakan bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI ) . Yang bekerja menangani pelestarian hasil budaya bangsa, baik koleksi perpustakaan nasional atau naskah kuno nusantara. Untuk menjalankan tanggungjawab tersebut pusat preservasi bahan pustaka telah menetapkan visi sebagai pusat informasi pelestarian bahan pustaka dan naskah kuno nusantara. Dipusat Preservasi Perpusnas RI ini, dibagi menjadi Bidang Konservasi yang menangani masalah perawatan dan pemeliharaan dan teknis penjilidan, lalu Bidang Reprografi yang menangani masalah pembuatan mikro film dan reproduksi foto. Serta dilengkapi dengan Bidang Penanganan Transformasi.
 Seperti yang disampaikan Ibu Sri Sumekar sebagai Kepala Pusat Preservasi Bahan Pustaka yang dikutip pada video yang diungghannya, kegiatan pelestarian pusat preservasi bahan pustaka di Perpusnas RI meliputi proses leaf castingnd koleksi surat kabar langka, proses laminasi pada koleksi buku langka, proses enkapulasi pada koleksi peta langka, proses manding manual pada koleksi naskah kuno, proses penjilidan naskah kuno, proses pembuatan portapel koleksi koran kuno langka, proses penjilidan koran dan tabloid, proses pemasangan cover pada koleksi buku. Di Bidang Transformasi Digital meliputi,proses editing dalam pembuatan e-book, proses pengemasan e-book ke dalam kepingan CD dan DVD, proses pembuatan audio box. Dalam Bidang Reproduksi Foto Dan Reprografi meliputi proses pemotretan gambar/foto, pemrosesan negatif film, proses pencucuian gambar pada negatif film yang terakhir pemiliharaan dan penyimpanan film pada album sebelum dilayankan. Untuk Bidang Mikrofilm meliputi proses peliputan data bibliografis bahan pustaka, proses pemotretan surat kabar langka kedalam bentuk mikrofilm.
Selain melestarikan koleksi Perpustakaan Nasional RI, pusat preservasi bahan pustaka juga melaksanakan pelestarian naskah nusantara.Seperti pada tahun 2009 di Padang, tahun 2010 pelestarian naskah kuno di Musem Radya Pustaka Solo, tahun 2010 di Yogyakarta, tahun 2013 di Medan, tahun 2015 di Jambi, tahun 2015 di Masjid Kauman Surakarta pada tangga 24-28 Agustus, tahun 2016 di Padang lagi, terakhir di Museum Sang Nila Utama Pekanbaru pada tahun 2016.

Preservasi Tidak Hanya Berlaku Pada Lingkup Perpustakaan

Preservasi Perpusnas RI sebagai struktur yang membidangi pelestarian bahan pustaka sudah dinilai sengat lengkap dalam melakukan penyelamatan bahan pustaka. Namun preservasi tidak hanya dilakukan oleh perpustakaan saja, diluar masih ada orang-orang yang peduli akan penyelamatan bahan pustaka yang langka. Seperti yang dilakukan oleh Mas Bembi Ananto sebagai orang yang bekerja di Lokananta Surakarta sebagai Staf Remastering Lokananta. Mas Bembi disini bekerja me-remastering musik pada piringan hitam ataupun arsip-arsip media konvensional terdahulu menjadi digital sekarang. Yang dimaksudkan agar tidak terjadi punahnya musik dan arsip dari indonesia masa terdahulu, sehingga arsipnya bisa di selamatkan. Disamping itu juga mempermudah pengenalan dengan anak-anak jaman sekarang.Remastering merupakan cara Lokananta mengalih mediakan master-master dari RRI (dijamannya) yang beragam seperti arsip-arsip sejarah, dll . Karena terlalu banyak sehingga dipermudah dengan alih media digital.

Untuk bidang perfllman, juga adanya preservasi. Seperti yang dilakukan oleh mas Edwin. Alasan mas edwin sebagai preservasi film yakni Produksi Film Negara (PFN). Berkantor di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur, PFN yang telah ada sejak zaman Belanda atau berdiri tahun 1935 yang tidak sempat dirawat hampir 12 tahun disimpan dengan kondisi kurang baik, tidak ada listrik tidak dijaga kelembabannya. Dalam film dokumenternya yang berjudul Reviving The Dead, Mas Edwin bekerja menyelamatkan rol-rolan film yang masih bisa diselamatkan, disamping itu mas Edwin sendiri sebagai film maker berkesempatan membangun film sebagai media, karena menggunakan kembali alat-alat yang ada di PFN (Produksi Film Negara) ini dengan melakukan sedikit pembaharuan reparasi disana-sini sehingga menggunakan lagi media yang tidak dipakai. Mas Edwin mengharapkan yang ada di PFN bisa memberitahu macam-macam pihak yang peduli dengan film indonesia untuk bisa merawat sejarah film-film agar terakses kembali oleh masyarakat.
Beda lagi dengan mas Faiz Ahsoul yang akrab dengan panggilan mas Faiz, ia peduli pada pengarsipan koran dan majalah. Seperti koran sejak tahun 1988 hingga sekarang mas faiz masih mengarsipkan walapun tidak setiap hari up-date, namun tiap tahunnya ada. Tujuan di arsipkannya koran maupun majalah sejak tahun terbitan 1988 ini untuk menyediakan bahan riset, sehingga yang diutamakan adalah koran dan majalah kuno ataupun yang memiliki nilai sejarah, ungkap mas Faiz sebagai Koordinator Pengelola Program IBOEKOE di bawah Yayasan Indonesia Buku yang berlokasi di Sewon, Bantul, Yogyakarta.
Sayangnya dari ribuan koran seperti Tempo, Media Indonesia, Kompas dan Suara Pembaharuan dan lain sebagainya jika di hitung berjumlah ratusan bahkan ribuan koran ini belum ada perawatan khusus. Seperti fungigasi ataupun pengaturan suhu ruangan, sehingga berdampak koran tersebut berubah warna menjadi kuning. Untuk menyisiasati hal tersebut, mas Faiz beserta teman-temannya mengalih mediakan menjadi koleksi digital dengan cara menscan dengan alat khusus sehingga tidak terlalu banyak biaya untuk perawatannya.
Darmono mengungkapkan pada buku Manajemen Tata Kerja Perpustakaan Sekolah tahun terbit 2001 dihalaman 60,” Koleksi adalah sekumpulan rekaman informasi dalam berbagai bentuk tercetak (buku,majalah,surat kabar) dan bentuk tidak tercetak (bentuk mikro, bahan audio visual, peta)”. Sehingga seperti diungkapkan Darmono pada bukunya baik buku, peta audio visual atau non visual dan koran, sama pentingnya untuk dilakukannya preservasi. Tujuan utama preservasi adalah memperpanjang eksistensi benda budaya. Dureau dan Clements menyebutkan, preservasi mencangkup unsur pengelolaan keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metode untuk  melestarikan bentuk fisik dan kandungan informasi bahan pustaka. Pada intinya pelestarian itu dilakukan tidak hanya mengenai buku, ternyata banyak yang perlu di lestarikan bahan pustaka tersebut. Seperti yang dilakukan Pusat Preservasi Perpusnas RI, Mas Bembi, Mas Edwin, dan Mas Faiz.  Mereka semua melakukannya tidak semudah membalikan tangan, hal demikian adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu yang lama serta dedikasi yang tinggi demi lestarinya bahan pustaka tersebut sehingga tidak musnah termakan usia. Karena semua bahan pustaka, memiliki nilai sejarah. Pasti disuatu saat nanti digunakan sebagai media untuk dipelajari kembali.
Untuk kali ini akan penulis tutup dengan Quote:
If the lack of preventive measures and the preservation of cultural objects, 
want to see what our grandchildren later.??

Narasumber :
- Ibu Dra. Sri Sumekar, M. Si, Kepala Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
- Mas Bembi Ananto, Staf Remastering di Lokananta Surakarta.
- Mas Edwin, Film Maker/Preservasi Film di Produksi Film Negara (PFN).
- Mas Faizz Ahsoul, Koordinator Pengelola Program IBOEKOE di bawah Yayasan  Indonesia Buku.



Sumber Referensi :
Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Gramedia
Hartono. 2016. Manajemen Perpustakaan Sekolah Menuju Perpustakaan Modern dan Profesional. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan . Jakarta : Perpustakaan Nasional RI
Welianto, Ari. 2015 . Tim Perpustakaan Nasional Tangani Kerusakan Buku Kuno Koleksi Masjid Agung Surakarta”.JOGLOSEMAR, Senin 24 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar